DUNIA SEKOLAH

Prestasi Akademik atau Pembentukan Karakter Anak?

Sekolah adalah tempat di mana anak menuntut ilmu juga bersosialisasi. Sebenarnya mana yang lebih penting, prestasi akademik atau pembentukan karakter anak?

Desi Hariana | 28 September 2022

“Kecerdasan dan karakter, keduanya adalah tujuan dari pendidikan yang sesungguhnya.” Perkataan ini disampaikan oleh Martin Luther King, Jr., seorang tokoh pergerakan hak warga sipil di Amerika Serikat. Idealnya, pendidikan anak memang mengandung kedua unsur penting tersebut, yaitu untuk meningkatkan kecerdasan, serta membentuk karakter anak.

Namun sering kali orangtua maupun guru lebih menekankan pada prestasi akademik anak dibandingkan pembentukan karakternya. Dengan pemikiran bahwa dengan nilai yang baik, maka anak mendapat kesempatan lebih besar untuk mewujudkan cita-citanya. Namun sebenarnya mana yang lebih penting, prestasi akademik atau pembentukan karakter anak?

Nilai saja tidak cukup

Pendidikan bukanlah sebuah proses mekanik yang bertujuan untuk memaksimalkan kapasitas prestasi akademik semata. Sebagai manusia, anak memiliki kemampuan berpikir, tubuh, serta emosi yang semuanya juga perlu diasah. Nilai yang baik saja tak cukup untuk mendorong anak meraih kehidupan yang baik. Karakter anak juga perlu dibentuk untuk siap menghadapi berbagai tantangan dalam hidupnya.

Itu sebabnya mengapa pendidikan yang efektif tak hanya bertujuan agar anak mendapatkan prestasi akademik yang baik, tapi juga mengarahkannya agar dapat memiliki hidup yang sukses dan bahagia. Pembentukan karakter yang baik menjadi lebih penting dibandingkan nilai yang didapat anak.

Para ahli menemukan bahwa program pembentukan karakter pada anak justru dapat memperbaiki performa akademik mereka. Pada tahun 2003, sebuah penelitian yang dilakukan pada lebih dari 600 sekolah di negara bagian California, Amerika Serikat, ditemukan korelasi antara pendidikan karakter dengan nilai akademik yang mereka dapatkan.

Penelitian lain yang dipublikasikan di School Psychology Quarterly pada tahun 2008 menemukan bahwa kompetensi sosial-emosional anak yang dibentuk dalam pendidikan karakter, sangat mempengaruhi kemampuan akademik sekitar 300 murid kelas 3 SD yang menjadi subjek penelitian ini. Sebuah meta analisis dari ratusan penelitian juga menemukan bahwa pendidikan karakter memberi efek positif pada prestasi akademik anak, mampu meningkatkan nilai hingga 11-17% poin.

Bagaimana pendidikan karakter anak dilakukan?

Pendidikan karakter bukan hanya tugas dan tanggung jawab para guru di sekolah, melainkan siapapun yang menjadi mentor bagi anak, seperti orangtua. Seorang psikiater anak Dr. James P. Comer, mengatakan bahwa karakter anak itu diibaratkan seperti penyakit flu yang menular. Kita yang berada di lingkungan anak perlu memberikan arahan juga contoh karakter yang diinginkan, agar anak pun akhirnya menjadi ‘tertular’.

Bagaimana atau apa saja yang perlu diasah pada anak sebagai cara untuk membentuk karakternya?

1. Ketangguhan (resilience)

Dalam setiap langkah kita, akan selalu ada tantangan yang menghadang. Namun dengan ketangguhan, maka semua hal tersebut dapat diatasi dengan baik. Inilah salah satu karakter yang perlu dimiliki oleh anak. Biarkan anak mencoba mengatasi tantangannya sendiri sebelum Anda datang memberi bantuan.

2. Semangat (passion)

Manusia adalah makhluk yang senang bereksplorasi. Rasa ingin tahu yang dimiliki anak akan mengarahkannya ke berbagai kemungkinan. Anak akan melakukan sesuatu dengan sepenuh hati jika ia memiliki semangat di dalam dirinya. Berikan ruang bagi anak untuk mengembangkan rasa keingintahuannya.

3. Berpikir kreatif (out-of-the-box thinking)

Beberapa tantangan dalam hidup perlu pemikiran kreatif untuk mencari solusinya. Anak perlu dilatih untuk memiliki cara berpikir kritis dalam memandang sebuah permasalahan. Jangan mencontohkan anak untuk berpikir sama dengan anak lainnya, justru keunikan pemikirannyalah yang menjadi kekuatannya.

4. Kemampuan berpikir positif

Lingkungan atau komunitas di mana kita tinggal sering kali tidak mendukung kemampuan berpikir positif pada anak. Sikap saling curiga, individualis, sinis, senang menjelek-jelekkan orang yang berbeda, perundungan, dan lainnya, dapat menyebabkan anak menganggap dunia ini suram dan tidak menyenangkan. Hal ini tentunya tidak baik bagi anak. Ajaklah anak untuk selalu melihat sisi positif dari segala hal.

Jadi sekarang Ayah dan Ibu pasti sudah memahami mana yang lebih penting, prestasi akademik atau pembentukan karakter anak? It takes a village to raise a child, tentunya kita perlu kerjasama dengan berbagai orang di lingkungan anak dalam usaha bersama untuk membentuk karakter anak menjadi karakter teladan.

Referensi:

Polling
Perlukah anak di imunisasi?
Silahkan Login untuk isi Polling LIHAT HASIL
Komentar
Silahkan Login untuk komentar
Punya pertanyaan seputar Ibu dan anak? Kamu bisa bertanya pada ahlinya di sini

Kirim Pertanyaan