ANAKKU SPESIAL

Hambatan Sosial Anak dengan Gangguan Belajar

Bukan hanya masalah akademis yang dapat menjadi hambatan bagi anak dengan gangguan belajar. Ia pun dapat mengalami hambatan sosial. Ketahui cara membantu mengatasi hambatan sosial anak dengan gangguan belajar.

Desi Hariana | 4 April 2023

Cara seseorang memproses informasi juga dapat mempengaruhi interaksinya dengan orang lain. Hal ini sering luput kita perhatikan pada anak dengan gangguan belajar (learning disabilities). Meskipun orang dewasa sering kali melihat hambatan ini sebagai hal yang tidak terlalu serius, namun bagi anak-anak belum tentu demikian. Mereka akan sangat rentan untuk mengalami penolakan, perundungan, dan lain sebagainya.

Memahami hambatan sosial anak dengan gangguan belajar

Anak dengan gangguan belajar umumnya mengalami hambatan dalam bersosialisasi diakibatkan oleh hal-hal berikut ini:

1. Gangguan dalam proses kognitif

Kemampuan menerima, mengorganisir, dan memberikan respons yang sesuai sangatlah penting dalam bersosialisasi. Interaksi sebenarnya merupakan proses kognitif yang bertahap. Mulai dari memahami ucapan, gestur, atau ekspresi orang lain, mengolahnya, lalu menemukan respons yang pas, baik dalam pemilihan kata-katanya maupun ekspresi atau gesturalnya.

Hal yang bagi anak lainnya mungkin berjalan secara intuitif, sedangkan bagi anak dengan gangguan belajar, mereka harus memikirkan setiap langkahnya secara hati-hati. Akhirnya, mereka sering dilihat sebagai anak yang ‘lambat’, atau ‘aneh’ bagi orang di sekelilingnya.

2. Masalah dalam pemahaman informasi sosial

Anak-anak yang mengalami hal ini, termasuk mereka yang mengalami gangguan belajar non-verbal. Anak mengalami kesulitan dalam memilih pola sosial yang cocok untuk diaplikasikan saat tertentu, dan tidak bisa secara intuitif menyadari skenario sosial. Misalnya saat menyapa orang lain yang baru dikenalnya, atau cara merespons bercandaan teman.

3. Masalah dalam mengatur atau mengorganisir sesuatu

Anak yang mengalami kesulitan dalam menjalankan fungsi eksekutif (kemampuan untuk siap sekolah), kadang bisa memahami sebuah informasi, namun sulit untuk mengolah dan menemukan responsnya. Biasanya hal ini terlihat juga pada anak ADHD, contohnya ia tiba-tiba terdiam karena mendengarkan percakapan orang lain di sebelahnya. Bisa juga tiba-tiba mengatakan hal-hal yang impulsif tanpa berpikir apakah kata-katanya akan menyinggung atau menyakiti hati orang lain.

4. Gangguan bahasa

Beberapa anak, misalnya yang mengalami disleksia, mungkin saja memiliki kemampuan sosial yang sangat baik, namun sering kali kesulitan dalam menemukan kata yang tepat dan mengaplikasikannya. Mereka sering menggunakan kata yang salah untuk mengekspresikan sebuah konsep atau lambat dalam merespons percakapan.

5. Krisis kepercayaan diri

Krisis kepercayaan diri memang tidak langsung berhubungan dengan gangguan belajar atau atensi, namun lebih pada stigma atau masalah sosial yang dialami anak. Anak yang mengalami keterlambatan diagnosis dan sering menerima ‘label’ sebagai anak yang kurang perhatian atau kurang berusaha di sekolah, juga dapat mengalami krisis kepercayaan diri. Ia tak merasa dirinya cerdas dan pantas. Hati-hati, anak-anak ini rentan terkena kecemasan dan depresi yang cukup serius.

Membantu anak untuk mengasah keterampilan sosialnya

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi hambatan sosial anak dengan gangguan belajar, yaitu:

1. Jika ia mengalami interaksi negatif dan merasa sedih atau marah, tenangkan anak terlebih dahulu. Bantu ia menyusuri proses berpikirnya setahap demi setahap.  memecah proses berpikirnya satu per satu, dan cari tahu di mana ‘kesalahannya’. Jika sudah menemukannya, Anda dapat memberikan masukan pada anak bagaimana cara mengatasi masalah yang sama di kemudian hari.

2. Bantu anak menemukan dan mengatasi kelemahan mereka dalam hal fungsi eksekutif agar bisa ‘nyambung’ dengan orang lain. Tujuannya adalah agar mereka bersikap terbuka saat melakukan kesalahan, dan tidak bersikap defensif.

3. Anak yang mengalami masalah penggunaan bahasa, perlu diajarkan strategi alternatif agar mereka dapat menolak reaksi negatif dari orang lain.

4. Anak yang baru didiagnosis mengalami gangguan belajar perlu untuk diingatkan bahwa mereka sama pintarnya dengan teman-temannya dan kondisi yang ia alami bukanlah kesalahannya. Anak perlu ditumbuhkan dahulu rasa percaya dirinya, sebelum belajar strategi bersosialisasi yang cocok untuknya.

Berhubungan dengan anak yang mengalami gangguan belajar, baik orangtua maupun pengajar perlu ekstra sabar. Sangat penting untuk tidak merespons secara emosional ketika anak sedang bersikap anah atau tidak dapat menangkap konsep sederhana. Mengobrollah dengan anak tanpa menghakiminya.

Referensi:

Polling
Perlukah anak di imunisasi?
Silahkan Login untuk isi Polling LIHAT HASIL
Komentar
Silahkan Login untuk komentar
Punya pertanyaan seputar Ibu dan anak? Kamu bisa bertanya pada ahlinya di sini

Kirim Pertanyaan