KESEHATAN AYAH

Awas Bahaya di Balik Perut Buncit

Bagi para ayah, hati-hati, perut buncit bukan lagi tanda kemapana. Bahkan sebaliknya, mengandung banyak risiko yang membahayakan kesehatan. Waspadai bahaya di balik perut buncit.

dr. Ika Fitriana, Sp.PD | 22 Oktober 2020

Kapan perut dikatakan buncit? Untuk laki-laki ukurannya adalah lingkar perut >90 cm, dan perempuan >80cm. Pengukuran dilakukan dengan mengukur pinggang, ambil garis tengah antara iga terbawah dengan tulang panggul yang menonjol.

Penyebab perut buncit

Perut buncit banyak dihubungkan dengan aktivitas fisik yang rendah dan diet tinggi kalori. Di negara maju, fenomena ini sudah terlebih dulu terjadi dan makin banyak ditemukan di Indonesia, terutama daerah perkotaan.

Perut buncit bersama dengan gejala lain akan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, salah satunya adalah penyakit jantung koroner. Kumpulan gejala dan tanda ini disebut sindrom metabolik. Sindrom metabolik menurut International Diabetes Federation adalah obesitas sentral yang disertai dengan dua dari faktor berikut ini:

  • Obesitas perut (Laki-laki: lebih dari 90 cm, wanita lebih dari 80 cm)
  • Trigliserida lebih atau sama dengan 150 mg/dL
  • HDL kurang dari 40 mg/dL (pria), dan kurang dari 50 mg/dL (wanita)
  • Tekanan darah lebih atau sama dengan 130/ 85 mmHg
  • Gula darah puasa lebih atau sama dengan 110 mg/dL

Bagaimana mengatasi perut buncit?

Memahami betapa merugikannya perut buncit bagi kesehatan, para ayah perlu melakukan beberapa hal berikut ini untuk mengatasi dan menghilangkan perut buncit:

  • Terapkan pola hidup sehat dengan menjaga berat badan ideal, meningkatkan aktivitas, mengatur komposisi diet (cukup karbohidrat, rendah lemak, dan tinggi protein).
  • Lemak jenuh harus kurang dari 7% kalori,
  • kolesterol <200 mg/hari,
  • tingkatkan konsumsi serat larut hingga 10-25 gram/hari,
  • banyak makan buah dan sayur.
  • Penurunan berat badan yang konstan meski sedikit, disertai peningkatan aktivitas fisik, lebih baik untuk mencegah terjadinya diabetes tipe 2 di kemudian hari. Terutama pada orang gemuk yang memiliki intoleransi glukosa (prediabetes).

Pada mereka yang tidak bisa menjalani perubahan gaya hidup, dan memiliki risiko tinggi untuk gangguan kardiovaskular, diperlukan pengobatan sesuai dengan kelainan yang ditemukan (hipertensi, diabetes, kelainan kolesterol, atau obesitas).

Namun tentu saja, mencegah akan jauh lebih baik daripada mengobati. Prinsip yang utama adalah menjalankan hidup sehat dalam berbagai sisi kehidupan kita. Banyak bergerak dengan melakukan aktivitas fisik seperti olahraga, menghindari makan berlebih, perbanyak buah dan sayur, tidak merokok dan minum minuman keras, tidur yang cukup, dan menghindari stres adalah ‘resep’ yang dijamin tak akan gagal dalam menghindari perut buncit.

Referensi:

  • ATP III Guidelines At A Glance Quick Desk Reference. National Cholesterol Education program. www. Nhlbi.nih.gov. 2001
  • Despres, JP. Abdominal obesity: the most prevalent cause of the metabolic syndrome and related cardiometabolic risk. Eur Heart J Suppl (May 2006), suppl.
  • The IDF consensus worldwide definition of the metabolic syndrome. www.idf.org. 2006
Polling
Perlukah anak di imunisasi?
Silahkan Login untuk isi Polling LIHAT HASIL
Komentar
Silahkan Login untuk komentar
Artikel Selanjutnya

Tahapan Belajar Jalan

Punya pertanyaan seputar Ibu dan anak? Kamu bisa bertanya pada ahlinya di sini

Kirim Pertanyaan