PSIKOLOGI ANAK

Pendidikan Seks Sesuai Usia

Pendidikan seks sesuai usia perlu diberikan pada anak guna melindungi anak dari pemahaman yang salah mengenai seks.

Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si | 29 Juni 2020

Selama ini memang ada semacam keraguan dari orangtua untuk membahas masalah seks secara terbuka dengan anak. Orangtua enggan membahasnya karena menganggap usia anak yang masih terlalu muda. Sementara rasa ingin tahu anak jika tidak diimbangi informasi yang jelas dari orangtua juga dapat membahayakan. Bisa jadi mereka mendapatkan informasi yang salah dari orang lain. 

Manfaat pendidikan seks

Memberi pendidikan seks sesuai usia anak pada dasarnya memberikan manfaat bagi anak dalam mencegah hubungan seks di usia dini. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2010 yang dilakukan oleh Balitbang Depkes RI, gejala perilaku seksual pra-nikah pada remaja laki-laki dan perempuan usia 10-24 tahun sudah terjadi. Walaupun angkanya masih di bawah 5 %, kejadian ini seharusnya dapat dicegah dengan memberikan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi sejak usia masih muda.

Manfaat lain memberikan pendidikan seks sesuai usia adalah untuk menghindarkan kesalahpahaman yang dapat menyebabkan gangguan perilaku seksual ketika anak dewasa nanti. 

Pendidikan seks secara bertahap

Memberikan pendidikan seks sesuai usia sebaiknya dilakukan sedikit demi sedikit, mulai dari tingkat dasar yaitu mengenalkan anak pada beberapa bagian organ intim, hingga tingkat tinggi yang mengenalkan hubungan yang lebih kompleks pada orang yang dewasa berikut risikonya. 

Semua perlu dijelaskan sesuai dengan perkembangan koginitif anak, agar ia dapat mencerna penjelasan yang diberikan orangtua. Selain itu, perlu juga adanya pendekatan orangtua pada anak agar anak merasa tak canggung dan malu untuk menanyakan hal-hal yang ingin mereka ketahui seputar seks.

  • Bayi

Walaupun mungkin pemahamannya masih sangat rendah, namun kita sudah dapat mengajarkannya hal-hal sederhana, seperti mengenali organ intim yang mereka miliki. Sebutkan nama-nama anggota badan ketika sedang memandikan atau bermain dengannya, termasuk organ intimnya. Hal ini bermanfaat untuk menambahkan perbendaharaan kata anak serta memahami identitas jenis kelaminnya. 

  • Balita

Ajarkan anak membersihkan diri sendiri seusai berkemih, BAB, atau mandi sendiri. Tentunya dengan tetap diawasi orangtuanya. Biasakan anak untuk mengganti bajunya sendiri di ruang tertutup. Beri tahu anak agar tidak boleh ada yang menyentuh kelaminnya selain dia sendiri dan orang tuanya. Dokter hanya boleh melakukannya saat melakukan pemeriksaan. 

Anak juga perlu diajarkan bahwa jika ada yang menyentuh alat kelaminnya, ia harus segera menyampaikan pada orang tuanya. Apabila anak senang menyentuh kelaminnya, beritahukan bahwa hal itu kotor dan sebaiknya tidak dilakukan. Selain itu juga ajari ia malu apabila hal tersebut dilihat orang lain.

  • Usia 6-8 tahun

Pada usia ini anak sudah harus mandi sendiri dan berganti pakaian tanpa bantuan, sehingga meminimalkan sentuhan dari orang lain pada tubuhnya. Pergaulan anak semakin luas, ingatkan anak untuk tidak bercanda secara berlebihan dengan teman-temannya seperti mengangkat rok teman cewek atau menurunkan celana teman cowok. 

Anak juga perlu belajar tentang perbedaan sentuhan yang sopan dan tidak sopan. Ajarkan anak untuk mengamankan diri ketika ada orang lain menyentuh bagian tertentu dari tubuhnya. 

  • Usia 9-12 tahun

Beberapa anak lebih dahulu mengalami pubertas. Jelaskan pada anak mengenai perubahan tubuh yang akan ia alami, menstruasi pada anak perempuan, mimpi basah pada anak laki-laki, juga perubahan emosional yang terjadi pada mereka. 

Selain itu juga ada perubahan pada postur tubuh, suara dan mulai ada ketertarikan pada lawan jenis. Anak perlu diajak berdiskusi tentang hal-hal yang sebaiknya dilakukan, atau tidak, yang menyangkut masalah seksualitas.

Memberikan pendidikan seks sesuai usia sesungguhnya tidak sulit, hanya perlu pendekatan agar anak merasa nyaman dan tidak risih untuk bertanya pada orangtuanya. Ini menjadi modal anak untuk bertanggung jawab pada diri sendiri, dan mencegah berbagai kemungkinan tindak pelecehan seksual dan pergaulan bebas.

Referensi:

Tag Terkait
pubertas remaja
Polling
Perlukah anak di imunisasi?
Silahkan Login untuk isi Polling LIHAT HASIL
Komentar
Silahkan Login untuk komentar
Artikel Sebelumnya

Menuju Kenormalan Baru

Punya pertanyaan seputar Ibu dan anak? Kamu bisa bertanya pada ahlinya di sini

Kirim Pertanyaan