PSIKOLOGI ANAK

Berdiskusi Soal Pubertas dengan Si Remaja

Orang tua perlu berdiskusi soal pubertas dengan si remaja untuk memberikan pemahaman yang benar sekaligus memberikan tip menghadapi perubahan yang terjadi.

Anissa Aryati | 19 November 2020

Anak menghadapi masa pubertas dengan cara yang berbeda. Ada yang tenang-tenang saja, seakan tak ada hal besar yang sedang terjadi. Ada juga yang melewatinya dengan penuh kepanikan dan kebingungan. Biasanya hal ini dipengaruhi dengan seberapa banyak informasi yang ia dapat mengenai pubertas dari orang tuanya. Anak-anak yang menerima pendidikan seksual bertahap sejak kecil umumnya lebih tenang menghadapi perubahan pada tubuhnya.

Berdiskusi soal pubertas dengan si remaja merupakan tugas orang tua dalam mendampingi mereka melewati masa yang membingungkan ini. Walau pada awalnya mungkin hal ini membuat ia merasa malu dan tidak nyaman, dengan pendekatan yang tepat, anak akan bersikap lebih terbuka.

Saat masa pubertas tiba

Pubertas adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa dimana anak akan mengalami banyak perubahan secara fisik, psikologis, maupun emosional. Masa pubertas pada anak perempuan umumnya terjadi pada usia 12-13 tahun, kadang bahkan lebih cepat (9 tahun) atau lebih lambat (16 tahun). Pada anak laki-laki biasanya diawali dengan mimpi basah di usia 10-11 tahun, tapi bisa juga terjadi lebih lambat.

Pada masa pubertas, baik anak perempuan maupun laki-laki secara umum akan mengalami berbagai perubahan baik suasana hati, percepatan pertumbuhan, maupun perubahan hormonal. Perubahan secara fisik yang paling terlihat adalah munculnya jerawat, produksi keringat yang meningkat, serta munculnya rambut pada ketiak dan kelamin.

Pada anak laki-laki, setelah mengalami mimpi basah atau ejakulasi saat tidur, akan mengalami perubahan fisik seperti ukuran penis dan testis yang membesar. Pada wajah tumbuh rambut, otot menjadi lebih besar dan bulu kaki lebih lebat. Perubahan lainnya juga bisa dilihat pada suara yang lebih berat.

Pada anak perempuan, perubahan secara fisik akan muncul lebih dulu seperti mulai tumbuhnya payudara dan pinggul yang melebar. Selanjutnya mereka akan mengalami menstruasi selama 3-7 hari, karena indung telur telah berproduksi, sel telur yang menempel pada dinding rahim yang tak dibuahi akan luruh menjadi darah menstruasi. Ini adalah penanda bahwa anak sudah dapat mengalami kehamilan, itu sebabnya berdiskusi soal pubertas dengan anak sangat diperlukan.

Mendidik anak melalui masa pubertas

Inisiatif berdiskusi soal pubertas dengan si remaja sebaiknya dilakukan orang tua karena anak kemungkinan besar akan malu menyampaikan pertanyaan-pertanyaannya. Diskusi ini perlu dilakukan agar anak tidak mendapatkan informasi yang salah dari orang lain. Beri keyakinan pada anak bahwa apa yang ia alami bukanlah hal yang memalukan atau aneh, semua orang pasti akan mengalami pubertas sebelum menjadi dewasa.

Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua:

  • Anak perempuan diajari menggunakan bra dan pembalut pada saat mereka mengalami menstruasi.
  • Berusaha memahami ketika mereka lebih senang berada di dalam kamarnya sendiri, suka mematut diri di depan cermin, atau berada di kamar mandi lebih lama.
  • Ajari anak cara merawat wajah yang benar, atau ajak ke salon untuk melakukan perawatan wajah.
  • Ingatkan untuk merawat kebersihan tubuh mengingat saat pubertas anak mengalami peningkatan produksi keringat. Ia harus rajin mandi, berganti pakaian, serta menyediakan deodoran agar ia tak mengalami masalah bau badan.
  • Dukung anak mengekspresikan diri, misalkan memilih jenis potongan rambut yang mereka anggap tren atau memilih gara berpakaian yang mereka sukai.
  • Selalu sediakan waktu untuk anak ketika mereka ingin ‘curhat’, misalnya mulai suka pada lawan jenis, sakit saat menstruasi, mudah emosi, dan lain sebagainya.

Berdiskusi soal pubertas dengan si remaja akan membantunya mengatasi perubahan dengan tenang. Ia bisa saja mendapatkan informasi soal pubertas dari internet, namun akan lebih baik jika ia mendapatkannya dari orang tua. Orang tua juga dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak dalam menghadapi masa remajanya.

Referensi:

Polling
Perlukah anak di imunisasi?
Silahkan Login untuk isi Polling LIHAT HASIL
Komentar
Silahkan Login untuk komentar
Punya pertanyaan seputar Ibu dan anak? Kamu bisa bertanya pada ahlinya di sini

Kirim Pertanyaan