PSIKOLOGI ANAK

Asah Keterampilan Sosial Emosional Anak dengan Maaf Memaafkan

Saat merayakan Hari Raya Idulfitri, salah hal yang sering kita lakukan adalah tradisi maaf memaafkan antar sesama keluarga, tetangga, dan lainnya. Hal ini ternyata dapat mengasah keterampilan sosial emosional anak juga.

Desi Hariana | 17 Mei 2021

Anak terlahir sebagai makhluk sosial yang tentunya akan sering melakukan interaksi sosial dalam hidupnya. Keterampilan sosial emosional anak diserap melalui hubungan sehari-hari dengan orang-orang di sekelilingnya. Keterampilan ini sangat penting dalam menjaga kesehatan mental, proses belajar, memotivasi diri, bekerja sama, dan membangun nilai-nilai moral anak.

Berdampak pada masa dewasa

Mengajarkan anak keterampilan sosial-emosional akan memberikan dampak sosial, akademik, dan professional pada anak di masa dewasanya nanti. Menurut Jones, Greenberg, dan Crowley (2015), pengajaran keterampilan sosial emosional pada anak di usia TK, akan memberikan hasil di usia 25 tahun. Beberapa hasil yang diperlihatkan antara lain:

  • Kesuksesan akademik, menyelesaikan pendidikan tinggi.
  • Kesuksesan karir, lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan.
  • Kunci kesuksesan lainnya, seperti jarang atau tak pernah berurusan dengan hukum.

Keterampilan sosial emosional dapat membantu anak mengahadapi tantangan dalam kehidupannya, seperti meminta tolong ketika ia membutuhkannya dan mempertimbangkan dengan baik segala hal yang mungkin muncul dari tindakannya.

Karena dalam kehidupan ini juga kita tak dapat menghindarkan diri dari konflik, ajarkan kemampuan untuk minta maaf dan memaafkan sejak dini. Penting bagi kita untuk mengajarkan anak tentang rasa empati, sikap penuh kasih dan pemaaf pada anak. Ia akan lebih mudah menempatkan diri di lingkungan sosialnya dan pada akhirnya akan menghindarkan dirinya dari rasa khawatir atau depresi.

Mengajarkan anak cara maaf memaafkan

Ada beberapa cara mengasah kecerdasan sosial emosional anak dengan maaf memaafkan. Berikut beberapa diantaranya:

1. Memberi contoh bagi anak. Anak akan meniru orang dewasa yang ia kagumi, seperti orang tua atau pengasuhnya. Perlihatkan pada anak bahwa Anda tak sungkan untuk minta maaf jika melakukan kesalahan, termasuk juga padanya. Begitu juga saat ada yang meminta maaf, Anda pun segera memaafkan orang tersebut.

2. Menjadi ‘pelatih emosi’ anak. Anak belum pintar dalam mengatur emosi yang muncul dalam dirinya. Jadi saat ia berselisih dengan temannya, ia akan merasa sedih atau marah. Anda dapat menjelaskan pada anak emosi apa yang ia rasakan dan diskusikan dengannya cara untuk menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Beri pendampingan padanya saat hendak meminta maaf pada seseorang tapi ia malu atau kurang berani melakukannya.

3. Membaca buku anak tentang problem sosial emosional. Membaca buku bersama memberi kita kesempatan untuk berdiskusi dan mengajarkan anak mengenai berbagai keterampilan sosial emosional. Misalnya tentang sabar mengantri, bergiliran, berkerja sama, meminta maaf, memaafkan, dan lain sebagainya.   

4. Memberi mereka pilihan. Ini adalah cara agar anak belajar untuk membuat keputusan dalam hidupnya. Misalnya ketika ia harus memutuskan untuk meminta maaf, atau tidak meminta maaf. Beri juga gambaran konsekwensi dari setiap pilihan. Ia juga dapat belajar bernegosiasi dan meningkatkan keterampilan dalam memecahkan masalah.

5. Menggunakan strategi pendisiplinan positif. Maksudnya, memberi tahu anak tentang peraturan dan apa harapan Anda dari sikap anak, memberinya peringatan dan kemungkinan konsekwensinya, memberinya pujian dan reward jika melakukan hal yang positif. Selain itu, orang tua juga sebaiknya tidak memberi perhatian saat anak berprilaku buruk atau negatif.

Memang untuk mengasah keterampilan sosial emosional anak dengan maaf memaafkan bukanlah hal yang bisa dilakukan dalam satu hari. Anak butuh pembiasaan yang dilakukan sedini mungkin. Namun melalui momen Idulfitri ini, Anda juga dapat menunjukkan pada anak bahwa perilaku minta maaf dan memaafkan adalah hal yang baik dan diharapkan di lingkungan sosial kita.

Referensi:

Polling
Perlukah anak di imunisasi?
Silahkan Login untuk isi Polling LIHAT HASIL
Komentar
Silahkan Login untuk komentar
Punya pertanyaan seputar Ibu dan anak? Kamu bisa bertanya pada ahlinya di sini

Kirim Pertanyaan