KESEHATAN ANAK

Anak Gemuk Belum Tentu Cukup Gizi

Kebanyakan orang tua lebih senang melihat anaknya gemuk daripada kurus. Padahal, anak gemuk belum tentu cukup gizi.

Anissa Aryati | 28 Februari 2021

Anak gemuk mungkin memang terlihat menggemaskan, menandakan orang tua mampu memenuhi kebutuhan konsumsi anak. Namun jangan juga terlena melihat hal ini karena apa yang anak konsumsi belum tentu memenuhi kebutuhan gizinya. Bisa jadi ia gemuk karena kelebihan salah satu elemen gizi, tapi kekurangan di bagian lainnya. Selain itu, obesitas juga sangat berbahaya bagi kesehatan anak.

Gemuk bukan indikator sehat

Anak gemuk (obesitas) sering dikaitkan dengan kelebihan gizi. Padahal belum tentu juga demikian, berdasarkan laporan gizi global atau Global Nutrition Report (2014), kegemukan atau obesitas merupakan satu dari permasalahan gizi yang biasa ditemukan di beberapa negara setelah postur tubuh pendek (stunting) dan kurus (wasting).

Badan kesehatan dunia, WHO, juga menyebutkan bahwa suatu negara dikatakan tidak lagi memiliki masalah gizi apabila indikator balita gemuk berada di bawah 5 %. Sementara dari data Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa sekitar 8 % anak berusia 5-12 tahun di Indonesia mengalami obesitas. Prevalensi tertinggi obesitas di Indonesia banyak ditemukan pada anak-anak di wilayah DKI Jakarta.

Penyumbang kegemukan

Waspadalah jika berat badan anak meningkat secara pesat. Penambahan berat badan anak yang terus meningkat sehingga menyebabkan overweight bisa terjadi karena banyak hal. Beberapa diantaranya penumpukan lemak berlebih, konsumsi gula, karbohidrat maupun garam yang tak seimbang. Hal ini memperkuat pendapat bahwa anak yang gemuk belum tentu cukup gizi.

Beberapa faktor yang sangat berpengaruh pada kenaikan berat badan adalah karena faktor perilaku (kebiasaan sehari-hari), lingkungan, dan genetik. Faktor genetik menyumbang sekitar 10-30% dari kondisi kegemukan, sementara faktor perilaku dan lingkungan dapat mencapai 70%.

Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa perkembangan teknologi yang pesat turut memberikan andil dalam meningkatkan prevalensi kegemukan di masyarakat. Kemudahan yang diberikan oleh teknologi membuat manusia moderen mengadopsi gaya hidup sedentary, yaitu kurang aktivitas fisik dan lebih banyak mengonsumsi makanan instan.

Mengurangi berat badan yang berlebih

Kondisi kegemukan yang tak diatasi dengan baik dapat mengundang berbagai risiko penyakit seperti gangguan kardiovaskular, beberapa jenis kanker, dan diabetes tipe 2. Jadi dalam hal ini orangtua perlu membantu untuk mengatasi kondisi obestitas anak agar tidak merugikan kesehatan anak di kemudian hari.

Bantu anak memiliki berat badan yang ideal dengan beberapa cara berikut:

  • Penyesuaian pola makan dengan mengurangi konsumsi gula, lemak, karbohidrat yang diasup secara berlebihan.
  • Memperbanyak konsumsi buah dan sayuran, sumber kalsium biji-bijian dan sumber protein sehat.
  • Menghindari junk food yang merupakan makanan tinggi kalori dengan sedikit nilai nutrisi.
  • Mengajak anak beraktivitas fisik dan mengurangi penggunaan gawai (screen time).

Dalam rangka Hari Gizi Nasional yang diperingati setiap tanggal 28 Februari, mari kita lebih memerhatikan kecukupan gizi anak sehari-hari. Ingat, tujuan kita bukanlah agar anak terlihat gemuk, tapi agar ia dapat menjalankan pola hidup sehat, terutama mengonsumsi makanan yang memenuhi kebutuhan gizinya.

Referensi:

Polling
Perlukah anak di imunisasi?
Silahkan Login untuk isi Polling LIHAT HASIL
Komentar
Silahkan Login untuk komentar
Artikel Selanjutnya

Apa Itu Penyakit Langka?

Punya pertanyaan seputar Ibu dan anak? Kamu bisa bertanya pada ahlinya di sini

Kirim Pertanyaan